Ruang Belajar
4d718ec1608effa6

Kesalahan-kesalahan Guru Dalam Mendisiplinkan Siswa

02 Oktober 2017
143 kali

Sahabat EG, kedisiplinan di sekolah berbanding lurus dengan prestasi siswa. Banyak sekolah yang terkenal karena prestasi anak-anak didiknya disebabkan oleh kedisiplinannya yang baik. Sebagai pendidik, tentu kita juga akan merasa lebih nyaman saat mengajar siswa yang disiplin. Kedisiplinan memang sangat baik untuk perkembangan prestasi anak, namun bisa berefek negatif bila kita mendisiplinkan siswa dengan cara yang salah. Efek negatif dari cara mendisiplinkan siswa dengan cara yang salah adalah siswa menjadi tertekan, siswa menjadi merasa dipermalukan, dan bahkan bisa memberikan efek traumatis. Agar kita tidak salah dalam mendisiplinkan peserta didik kita, kita perlu memperhatikan hal-hal berikut ini:

1. Hindari kata-kata yang negatif

Sebagai pendidik, kita jangan terlalu mudah mengatakan “jangan” atau “tidak boleh”. Terlalu mudah menggunakan kata “jangan” atau “tidak boleh” adalah suatu tanda bahwa kita kurang mampu bersikap bijak. Kita harus memahami alasan kita melarang siswa melakukan sesuatu. Misalnya, saat ada peristiwa anak-anak yang berlari-lari di dalam kelas. Hal pertama yang perlu kita katakan kepada siswa yang melakukannya adalah memanggilnya dengan cara yang baik, lalu memberikan penjelasan kepadanya tentang hal-hal negatif yang mungkin terjadi bila berlari-lari di dalam kelas, misalnya nanti bisa jatuh, bisa menyenggol teman hingga terjatuh, bisa menabrak meja, dan lainnya. Dengan penjelasan itu biasanya siswa akan lebih bisa menerima nasihat atau larangan yang kita sampaikan. Selain itu, karakter anak pun akan berkembang karena memahami dampak negatif melakukan sesuatu yang kurang pantas atau tidak sopan.

Sebagai pengganti kata “jangan”, kita juga bisa menggunakan kata-kata yang positif, misalnya “akan lebih baik”. Hal itu akan terkesan lebih sopan dan halus. Dalam satu kondisi kata “jangan” juga tidak salah untuk digunakan dalam menasihati atau memperingatkan peserta didik, namun perlu menggunakan nada yang bicara yang pantas dan jangan lupa untuk memberikan alasan mengapa kita melarangnya.

2. Menghindari nada bicara tinggi dan membentak

Gunakanlah nada bicara yang sopan dan baik, terutama untuk anak mengingatkan siswa yang tidak melakukan kesalahan yang besar, baru pertama kali melakukan kesalahan, atau melakukan kesalahan secara tidak sengaja. Ada kalanya kita juga harus bersikap tegas kepada siswa yang “bandel”. Kita harus tetap berusaha menjaga emosi kita, sehingga kata-kata yang keluar dari mulut kita adalah kata-kata yang baik atau bukan kata-kata yang tidak pantas. Nada bicara pun akan lebih baik, meskipun kita harus menggunakan suara yang lebih kuat atau ada penekanan intonasi.

3. Menghindari perilaku, kebiasaan, dan kata-kata yang negatif

Sebagai pendidik, tentu kita dituntut untuk menjadi teladan yang baik. Sosok teladan yang baik perlu menjaga perilaku dan perkataan. Kita juga harus menghindari kebiasaan yang tidak baik, misalnya datang terlambat, membuang sampah sembarangan, berpakaian kurang rapi, dan kebiasaan negatif lainnya. Guru itu seperti artis bagi siswa, karena apa pun yang dikatakan dan dilakukan akan dengan mudah ditiru oleh peserta didiknya.  Namun tetaplah menjadi diri kita sendiri. Jangan sampai karena tuntutan ini, kita malah menjadi terlihat kaku dan kurang bisa bersahabat dengan siswa. Tetaplah menjaga kepercayaan diri kita, agar kita akan lebih dekat di hati anak-anak didik kita. Beberapa hal yang perlu dihindari guru agar semakin pantas menjadi teladan pernah dibahas di sini.

4. Kurang mampu bersikap tegas

Tugas guru adalah mengajar dan mendidik siswa. Mendidik tidak cukup dengan pengajaran dan nasihat-nasihat, terutama saat siswa melakukan kesalahan. Ada saatnya kita bersikap tegas kepada siswa, untuk memberikan efek jera. Tindakan tegas dan tepat sangat dibutuhkan agar siswa mau berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan tidak melakukan kesalahan yang sama. Sikap tegas yang baik biasanya sangat berhubungan dengan tindakan yang tepat. Tindakan yang tepat biasanya adalah tindakan yang sesuai dengan aturan.
Aturan inilah yang perlu kita buat bersama siswa dan disepakati bersama. Siswa harus paham akan aturan yang telah disepakati. Pastikan siswa juga memahami akan konsekuensi dari apa yang mereka perbuat, terutama saat mereka melakukan kesalahan. Maka, bila memang siswa telah melakukan kesalahan, apalagi berulang-ulang (meski kita telah memberi peringatan berkali-kali), jangan ragu atau terkesan tidak tega untuk memberikan konsekuensi yang edukatif kepada siswa. Konsekuensi yang edukatif akan lebih disarankan daripada hukuman. Mau tau lebih jauh tentang konsekuensi edukatif? Baca artikel ini.

5. Kurang disiplin dalam hal-hal sederhana

Ajarkan kepada siswa untuk menunjukkan perilaku disiplin dalam hal-hal sederhana. Bila perlu, sudah memberlakukan pemberian konsekuensi saat siswa melakukan hal-hal yang kurang disiplin, meskipun hal-hal tersebut adalah hal-hal yang sepele. Misalnya, pada saat guru menjelaskan, murid tidak diperbolehkan memotong pembicaraan, bila ada siswa yang ingin memberikan tanggapan atau bertanya dalam kegiatan pembelajaran, siswa harus mengangkat tangan terlebih dahulu, dan tindakan tidak disiplin lainnya.

6. Membuat jera dengan mempermalukan siswa

Setiap pendidik tentu menginginkan agar peserta didiknya menjadi pribadi yang semakin baik. Biasanya hal ini ditandai dengan tidak diulangnya kesalahan yang biasa dilakukan siswa dan siswa menampakkan perubahan dalam hal kepribadiannya. Namun kita perlu menghindari hal-hal yang membuat siswa merasa malu atau dipermalukan. Biasanya hal ini sangat berhubungan dengan hukuman-hukuman yang kurang baik untuk diterapkan, misalnya dengan meminta anak berdiri di depan kelas dengan satu kaki diangkat. Hukuman seperti ini bisa membuat anak merasa rendah diri, karena telah dipermalukan di depan teman-teman lainnya.

Demikian tips dari kami, sahabat EG. Semoga dengan memperhatikan hal-hal di atas, anak-anak didik kita akan semakin menjadi anak yang disiplin. Semakin disiplin anak-anak didik kita, maka suasana belajar di kelas pun akan semakin tertib dan nyaman. Siswa pun akan tetap merasakan kebahagiaan dan semangat saat belajar di kelas karena kita memberikan treatment yang tepat. Semangat belajar sahabat EG!

Sumber gambar: blogs.thenews.com.pk