Opini Guru
91625dc6295f7880

Menjiwai Multiple Intelegences, Mencetak Generasi Pembelajar Sepanjang Hayat

12 November 2017
153 kali

Ada satu tragedi di dunia pendidikan Indonesia. Tragedi bermula pada era menteri pendidikan Bambang Sudibyo [2005] terkait penentuan kelulusan siswa pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, meliputi sekolah umum maupun sekolah kejuruan. Pemerintah menjadikan nilai mata pelajaran Ujian Nasional [UN] sebagai satu-satunya penentu kelulusan. Siswa dinyatakan lulus dari satuan pendidikan, jika setiap nilai mata pelajaran “ujian nasional” minimal 4,25. Hal itu tetap berlaku meskipun siswa memperoleh nilai 100 untuk mata pelajaran “ujian sekolah”. Kebijakan tersebut menuai pro dan kontra serta muncul tragedi bunuh diri di kalangan pelajar yang “tidak lulus UN”. Banyak pihak menyebut kejadian ini sebagai “tragedi pendidikan”. Betapa tidak? Banyak siswa--peringkat tiga besar paralel--dalam kenyataannya dinyatakan tidak lulus. Siswa pada sekolah bertaraf internasional juga ada yang tidak lulus. Muncul kecurangan sistematis berupa kemiripan jawaban siswa juga beredarnya bocoran jawaban dan diperjual belikan oleh oknum yang tidak jelas. Tidak hanya siswa, para orang tua siswa juga mengalami frustasi. 

Pada tahun-tahun berikutnya, pemerintah mengevaluasi dan menerapkan kebijakan yang lebih adil dan rasional. Sistem yang digunakan pada penentuan kelulusan dari satuan pendidikan untuk tahun pelajaran 2016/2017 sudah melibatkan “nilai rata-rata sekolah” dan “nilai rata-rata ujian nasional” dengan perbandingan 60% : 40%. “Nilai rata-rata sekolah” terdiri atas nilai rata-rata rapor semester satu sampai semester lima, nilai ujian sekolah, dan nilai ujian praktek, dan nilai ujian kompetensi kejuruan [UKK]. Sedangkan “nilai rata-rata ujian nasional” merupakan nilai rata-rata dari 4 mata pelajaran—khusus SMK—terdiri atas bahasa indonesia, bahasa inggris, matematika, dan teori kejuruan. Hal ini sekaligus memberi kepercayaan besar dalam hal penilaian, bagi satuan pendidikan--secara umum--dan bagi guru--secara khusus. Sistem penentuan kelulusan seperti inilah yang dapat dikategorikan selaras dengan konsep pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk [multiple intelegences]. 

Konsep kecerdasan majemuk [multiple intelegences] dikembangkan pertama kali tahun 1983 oleh Howard Gardner seorang profesor bidang pendidikan di Harvard Graduate School Of Education And Psicology. Gardner mendefiniskan kecerdasan manusia yang tak terbatas, yang di antaranya dapat dikelompokkan menjadi delapan kecerdasan, yaitu kecerdasan linguistik [bahasa], kecerdasan logika-matematika, kecerdasasan visual-spasial, kecerdasan gerak tubuh, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersenoal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Gardner juga menambahkan tentang kecerdasan spiritual. 

Menurut Gardner, “Kecerdasan tidak semata-mata diukur dari kecerdasan dalam menjawab materi-materi dalam pembelajaran semata, namun kecerdasan manusia juga harus dinilai berdasarkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam hidup; kemampuan menemukan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan atau dicari solusinya; serta kemampuan untuk menciptakan sesuatu dan memberikan penghargaan dalam budaya seseorang.”

Pembelajaran di kelas yang berbasis kecerdasan majemuk [multiple intelegences] dapat menciptakan pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan. Hal utama yang harus dimiliki guru adalah keyakinan bahwa setiap siswa terlahir unik. Masing-masing siswa membawa potensi kecerdasan, sifat, dan karakteristik yang berbeda. Kedua, Guru seharusya tidak mudah melakukan “labeling”, yaitu memvonis tanpa memberi kesempatan serta bimbingan secara telaten dan sabar. Ketiga, guru harus mampu menakar pemberian reward dan punishment.

Ijinkan saya berbagi kisah pada kelas di sekolah tempat saya bekerja. Saya punya    satu siswa laki-laki bernama Agusta Candra pada jurusan teknik instalasi tenaga listrik. Menurut penilaian saya, Agusta termasuk siswa yang pasif, tidak bersemangat belajar, pemalu, menyendiri dan kemampuan akademik yang lemah pada mapel yang saya ampu-IPA dan kimia. Pada kelas  X  [tahun 2016] Agusta punya beberapa nilai yang tidak tuntas untuk mata pelajaran normatif dan adaptif. Intinya ia lemah pada mata pelajaran “teori”, bahkan pada tiga mapel ujian nasional—matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa inggris. Namun, pada tahun 2017, ada guru baru – freshgraduate- yang merekomendasikan Agusta untuk mewakili kompetesi “desain website sekolah” pada ajang Olimpiade Ahmad Dahlan [Olympiad] tingkat SMA-SMK Muhammadiyah di Provinsi Jawa Tengah. Secara tidak terduga, ia bersama tim menjadi juara satu tingkat provinsi dan mendapat medali perak pada tingkat nasional. Sejak menjuarai olympiade itu, Agusta tampak lebih bersemangat mengikuti pelajaran. Agusta adalah satu contoh bukti adanya kecerdasan majemuk. Hal ini juga terjadi pada siswa saya yang mewakili Lomba kreatifitas Siswa [LKS]. Siswa yang mewakili lomba LKS SMK, umumnya memiliki “kemampuan teoritis” yang lemah, tetapi mereka unggul di bidang “praktek”. 

Ada hal penting yang bisa kita ambil manfaat dari kisah yang saya sampaikan. Bahwa setiap guru harus bisa mengenali dan memaksimalkan bentuk kecerdasan majemuk siswa. Guru juga harus mampu menanamkan keyakinan kepada siswa bahwa mereka pasti punya minimal satu kecerdasan yang unggul dibanding siswa lain. Dimana, kecerdasan yang mereka miliki akan dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri terlebih bagi kehidupan orang lain, baik pada masa sekarang maupun masa yang akan datang. Seperti halnya Agusta, ia memiliki kecerdasan di luar bidangnya—teknik instalasi tenaga listrik—dan dengan kecerdasannya ia mengharumkan nama sekolah. Semangatnya untuk belajar secara otodidak serta dukungan dan bimbingan dari guru mapel KKPI [Keterampilan Komputer dan Pegelolaan Informasi] menjadikannya berprestasi dalam hal Teknologi dan Informasi. Dari sinilah, maka refleksi dan evaluasi diri bagi guru menjadi sangat penting. Utamanya ketika hasil pembelajarannya belum maksimal. Dari hasil refleksi-evaluasi, guru dapat melakukan inovasi pembelajaran dan menerapkan strategi pembelajaran yang bervariasi. 

Sekitar tujuh tahun masa mengajar saya di SMK Swasta, saya sudah terbiasa menghadapai “kelas” yang sebagian besar kemampuan akademiknya menengah ke bawah dan mereka berasal dari keluarga—mohon maaf--“broken”. Fisik mereka memang di kelas, tetapi  seringkali mental mereka tidak siap belajar, tidak begitu tertarik dengan nilai “tinggi”, daya juang relatif rendah. Maka, saya mensiasati dengan menyesuaikan “standar”. Saya beri mereka kesempatan untuk mengembangkan kecerdasannya di luar “kimia” atau IPA. Saya lakukan dengan menggali kemampuan mereka melalui “sistem gilir”. Mulai dari giliran menjadi pemimpin muroja’ah pada jam pelajaran pertama, giliran menjadi imam sholat dzuhur/ashar, giliran menjadi ketua kelompok belajar, giliran menjadi asisten demonstrasi percobaan kimia, dan juga giliran menilai penampilan presentasi sesama siswa. Selain itu saya juga menuliskan komentar positif/negatif pada buku tugas, hasil ulangan, maupun pada hasil pengerjaan siswa di papan tulis. Komentar yang saya pakai di antaranya “excellent”, “tulisanmu rapi”, “bagus, kamu mengikuti pelajaran dengan aktif”, “kamu cerdas”, “lebih teliti jika menghitung”, “perjelas alur pengerjaan soal” dan sebagainya. Itulah beberapa bentuk pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk yang saya terapkan di kelas maupun di luar kelas. Meskipun saya belum maksimal tetapi semoga dapat memperkaya pengalaman siswa dan mengembangkan keyakinan siswa bahwa mereka mampu mencapai  sebuah  prestasi. Ketika siswa terbiasa untuk senantiasa belajar dan menjadi pembelajar sepanjang hayat, itupun bentuk dari kecerdasan. Sangat nyata manfaat yang bisa kita dapat dengan pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk. Maka, sangat disayangkan jika masih ada pihak yang kontra.*

Semoga bermanfaat.